AMELIA FITRIANI

Ingin menjadi diri sendiri

PILIH

Aku memilih untuk melajukan Nissan X-trailku diatas kecepatan 100 km/jam dengan sadar. Menjamahi sudut malam Jakarta yang renggang. Aku ingin segera tiba di apartemen wanitaku, wanita pilihanku, untuk memeluknya erat, bahkan teramat erat. Agar otot-ototku yang kaku saat aku bertengkar dengan Mami di rumah tadi dapat renggang. Dan agar meyakinkan diriku bahwa keputusan besar yang telah aku pilih adalah tepat.
****
“Tapi ini yang terbaik yang Mami pilihkan untukmu, Deris!”
“Terbaik Mami bilang? Hah! Aku sudah dua puluh enam tahun, Mi. Sudah cukup dewasa untuk memilih sendiri mana yang kurasa terbaik untukku.”
Mami meradang dengan berontakku. “Kamu sudah berani menentang Mami rupanya!”
“Dua puluh enam tahun sudah aku menjalani hidup dengan pilihan Mami. Tanpa pernah leluasa aku memilih jalanku sendiri.” Suaraku meninggi. Aku menghela napas beberapa detik, mencoba mengontrol emosiku “Sekarang aku ingin menjalani apa yang menjadi pilihanku sendiri. Dengan atau tanpa ijin Mami.”

PLAK!

“Kamu sudah gila, Derish!kamu itu wanita! Wanita terhormat!”
Mami menampar pipiku keras. Bahunya turun naik. Napasnya tersengal-sengal. Tatap matanya tajam. Mami terlihat begitu marah. Ini kali kedua aku meihat Mami marah besar seperti saat ini. Kali pertama Mami terlihat seperti ini aku lihat ketika aku masih duduk di bangku kelas enam SD, ketika Papi memilih untuk menceraikan Mami dan pergi begitu saja dengan wanita baru pilihannya.
Emosiku mulai mampu merenggang. Aku menghapiri Mami dan memeluk bahunya..
“Ikuti pilihan Mami, Derish!” pinta Mami dingin tanpa menoleh atau melirikku sedikitpun.
Emosiku kembali naik. Aku menghela nafas panjang. Membiarkan oksigen memasuki tubuhku dan melumpuhkan emosi yang sering membutakan. “Maaf, aku punya pihanku sendiri, Mi.” Jawabku tegas dan penuh keyakinan. “Aku tidak bisa bertunangan dengan lelaki pilihan Mami. Aku punya pilihanku sendiri. Aku yakin dia lah yang terbaik untukku, Mi.”
Mami masih terpaku dengan dinginnya. Kuyakin ia sangat terkejut dan kecewa dengan anak semata wayangnya yang tak lagi mengamini pilihannya ini. Tapi aku ingin Mami tahu bahwa aku memiliki pilihanku sendiri. Dan aku ingin mengatur pilihan hidupku sendiri.
“Baik. Jika itu memang pilihanmu.” Mami memecah kebisuan. “Pergilah kepada pilihanmu itu!”mami menghela nafas sejenak, “Tapi jangan pernah kamu kembali ke rumah ini.” Ucap Mami tegas sambil berlalu pergi ke kamarnya.
Aku seolah tertimpa langit yang runtuh ketika mendengar keputusan yang Mami pilih untuk mengusirku. Detik yang merambat mengantarkanku pada tingkat emosiku yang tertinggi, oksigen tak lagi mampu melumpuhkannya. Aku sungguh tidak menyangka Mami akan mengusirku karena aku memilih untuk tidak mengikuti pilihannya. Tapi aku sudah tegas memilih. Memilih untuk menjalani hidup bersama wanita pilihanku, dan bukan lelaki pilihan Mami. Aku akan berjalan pada jalan yang telah kupilih. Aku memilih untuk meninggalkan rumah ini, dan juga Mami.
Aku segera melajukan Nissan x-trailku menuju apartemen wanitaku, wanita pilihanku. Yang dengannya, akan kuberikan seluruh waktu dan hidupku.
****
Setibanya aku di apartemen yang kutuju, segera ku naiki lift menuju lantai tujuh, tempat wanitaku, wanita pilihanku beralamat tinggal. Kuremas-remas jemariku, tak sabar rasanya tiap lantai kulalui untuk segera bertemu dengannya.. Aku ingin segera menumpahkan air mataku yang tertahan dihadapannya. Menatap dua bola matanya lekat-lekat, dan menemukan disana, bahwa pilihanku tidak meleset, bahkan sangat tepat.
Ting Nung
Lift terbuka di lantai enam. Sorang perepuan tua membawa kantong plastik bertanda sebuah pasar swalayan, keluar dari lift. Meninggalkan aku sendirian di lift ini. Pintu kembali tertutup setelah ia keluar.
Ting Nung
Lift tiba di lantai tujuh. Detik kulalui dengan tidak sabar tuk menunggu pintu lift terbuka. Ia terbuka perlahan. Sesosok lelaki segera kutangkap keberadaannya di depan pintu lift ini. Lelaki yang tanpa perlu melumat banyak detik telah mampu kukenali. Dia lelakiku, lelaki pilihanku. Aku kegirangan bagai gadis cilik menemukan boneka beruangnya, karena menemukannya di depan lift ini. Ingin segera ku menjatuhkan diri dipeluknya.
Namun kegirangannku luntur seketika, tatkala pitu lift terbuka semaki lebar. Karena yang kutemui adalah lelakiku, lelaki pilihanku tidak sendiri. Ia bersama perempuan lain disisinya yang ia peluk erat pinggangnya. Langit seolah kembali runtuh menimpaku. Aku melumat beberapa detik untuk menyadari bahwa apa yang aku lihat adalah benar adanya. Lelakiku, lelaki pilihanku pun terkejut kala melihatku sedang melihatnya. Ia segera melepaskan tangannya dari pinggang perempuan dididinya itu.
Aku memilih untuk tetap membatu dalam ketrpakuanku dengan bisu. Lelakiku, lelaki pilihanku Nampak kehabisan kata untuk menjelaskan dan membujukku. Ia meninggalkan perempuan itu dan masuk ke dalam lift. Aku mendorongnya kuat hingga ia keluar ift dan jatuh terjerembab ke lantai berkarpet di depan lift. Kutekan tombol untuk menutup lift ini . menutup rapat-rapat pintu lift ini. Semua tombol di lift itu kutekan dengan kasar setelah lift benar-benar tertutup. Lantas aku berteriak sekencang-kencangnya.
Aku telah memilih untuk meninggalkan Mami dan memlih untuk bersamanya. Namun ternyata, lelakiku, lelaki pilihanku sudah memilih untuk berselingkuh dariku. Ia telah memilih untuk membuat pilihanku adalah salah. Aku salah memilih.
Aku memilih untuk melajukan Nissan X-trailku dari apartemen itu ke jalanan Jakarta dengan kecepatan diatas 140 km/jam dengan sadar. Menyadari bahwa aku berkendara. Menyadari bahwa aku telah memilih untuk tidak dipilihkan lelaki oleh Mami dan menjatuhkan pilihan untuk bersama lelaki pilihanku yang baru membuatku sadar bahwa ia yang terpilih olehku adalah tidak tepat untuk aku pilih. Dan sekarang aku memlih untuk pergi.[…]

Amelia
Bogor, 2009

« Sastra


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.