AMELIA FITRIANI

Ingin menjadi diri sendiri

GORDEN

Gorden lusuh itu terjuntai di sudut kamar. Warnanya yang dulu putih, kini luntur menjadi cokelat berbaur dengan debu yang kian menebal seumpama bedak yang ditumpuk pelacur tua pada wajah leceknya untuk menngoda makhluk berjakun yang tak berakal. Gorden itu tidak pernah disingkap apalagi dibersihkan oleh pemiliknya. Padahal pemiliknya adalah seorang buruh cuci yang sehari-hari berkutat dengan air dan deterjen. Tapi sedikitpun ia enggan menyentuh apalagi membuka gorden itu untuk ia cuci.
Gorden itu merupakan penghalang dari jendela yang merupakan satu-satunya celah keluar selain pintu dari kamar kos kecil di lantai satu ini. Sejak pertama kali menempatinya dua tahun lalu, gadis penghuni dan pemilik kamap ini tak pernah sedikitpun membuka gorden itu meski hanya sekedar memberikan celah pada mentari untuk menari riang berkilauan di dalam kamarnya yang selalu redup itu. Dara, gadis pemilik kamar itu menutup gordennya rapat-rapat.
Padahal sejak kecil hingga dewasa, ia sangat senang membuka gorden kamarnya yang luas lebar-lebar agar dapat melihat tarian embun di rerumputan atau memandang kelembutan rembulan yang selalu membelainya lembut hingga ia terlelap bertembu pangeran tampan membawakannya mawar merah yang ranum.
Namun sejak dua tahun yang lalu, ia menutup gordennya rapat-rapat. Gadis dua puluh satu tahun yang dulu merupakan bintang bagi keluarganya, kini adalah binatang. Ayah-ibunnya yang setia menghujani kasih sayang berupa lembaran uang mengusirnya dua tahun yang lalu karena kehamilannya di luar nikah. Cita-citanya yang tinggi untuk menjadi dokter gigi pupus sudah, dirampas Putra, kekasih yang menghamilinya. Putra lantas pergi belajar ke negeri orang dan membuang Dara yang sudah terbuang. Kandungan Dara keguguran saat ia mencoba bunuh diri dengan racun serangga di kamar kosnya. Namun takdir menggariskan hdiup yang tidak dikehendakinya ini harus berlanjut,. Dara mati dalam kehidupannya sendiri.
Dara kini adalah gadis dingin yang menutup dirinya hanya untuk dirinya yang mati. Bekerja menjadi buruh cuci di rumah majikannya adalah rutinitasnya, selebihnya ia habiskan waktunya dengan berdiam diri di kamar. Diam dalam kesunyiannya.
****
Pagi menunjukkan pesonannya seketika, kala fajar terkikis kapas awan di ujung subuh. Pohon dan bebatuan tersorot cantiknya terbasahi embun yang hadir ketika malam menaungi. Sang embun pun cemas kalau-kalau ia terlambat mengulurkan tangannya ke mentari, hingga ia terluputkan untuk dibawa ke nirwana.sang embun pun hanya mampu menunggu hingga waktunya menitik ke tanah, dan bukan terbang ke langit.
Kecemasan embun menjadi kenikmatan tersendiri bagi tiap-tiap pasang yang meleburkan diri bersama pesona pagi. Namun kenikmatan seperti itu sudah lama sekali tidak lagi Dara nikmati. Baginya, pagi adalah dingin. Siang adalah dingin. Malam adalah dingin. Dan hidupnya adalah dingin. Tak ada setets kesejukan atau kehangatan dari celah-celah yang telah ia tutp rapat.
Pagi inipun, ketika embun tengah bersorak karena mampu terangkat menjadi uap ke nirwana, Dara baru terbangun. Walau dengan terpaksa. Ia terbanguun karena terganggu dengan ketukan pintu yang berulang-ulang di luar kamarnya. Satu-satunya orang yang biasa mengetuk pintu kamarnya hanyalah ibu kos yang menagih uang sewa di awal bulan. Tapi sekarang bukanlah awal bula. Tidak ada alas an bagi ibu kos untuk mengetuk pintu kamarnya.
Tanpa kegairahan yang memang sudah musnah darinya, Dara bangkit dan membuka pintu. Senyum riang mentari menyambutnya yang seketika membuatnya memincingkan mata. Detik yang merambat hanya mampu ia habiskan dengan berusaha membuka mata lebar-lebar untuk menagkap bayang sosok di hadapannya. Usahanya berhasil. Entah detik ke berapa, Dara mendapatkan kembali kejelsan penglihatannya. Bayangan sosok yang mengetuk pintu kamarnya tengtangkap oleh matanya. Tidak butuh banyak detik yang dihabiskan untuk mencerna siapa sosok tersebut. Dalam ingatan Dara, hanya ada satu nama yang kebal untuk dimusnahkan.nama yang mengingatnya membuat Dara tak lagi mati, tetapi hidup. Namun hidup dengan dendam yang menggunung. Dan sosok yang menyandang nama tersisa di ingatan dara itu kini berdiri di hadapannya. Putra.
Dara terpaku beberapa saat. Meberikan celah waktu bagi dendam dari serpihan masa lalunya dengan Putra datang berduyun-duyun memenuhi pikirannya. Saat ketika ia sungguh tulus menyayangi Putra yang mampu menghadiahinya kesejukan embun dan kehangatan mentari. Saat tatkala ia berbagai kebanggan dengan memeluknya saat melihat namanya tercantum pada daftar mahasiswa yang diterima di jurusan kedokteran gigi universitas ternama di Jakarta. Saat ketika betapa tiap detik tak pernah disia-siakannya tanpa Putra disisinya. Saat-saat indah itu terasa perih yang menguhjamnya di ulu hati ketika saat samua harapan Dara pada Putra dimusnahkan habis kala permohonannya atas pertanggungjawaban Putra atas kehamilannya hanya dibalas dengan kalimat ‘maaf, aku harus sekolah ke Amerika.” Itu hadir. Dan disusul oleh kenangan pahit yang seolah membunuh hidupnya diam-diam bagai virus yang mnggerogoti hidupnya. Kenangan kala Rutra pergi begitu saja tanpa menyisihkan belas kasih untuk mneinggalkan sedikit jejak bagi Dara telusuri. Kenangan kala Dara hilang arah. Kala ia meracuni dirinya hingga gugur janin suci itu. Kala tiap malam ia lalui dengan air mata yang tak pernah tersampaika oleh angina pad Putra, hingga tetes terakhir air matanya terjatuh dan ia mulai menjadi mayat perlahan.mati dalam kehidupannya.
Putra masih terdiam. Miris melihat Dara yang berdiri dihadapannya kini, seolah tak percaya bahw a ia adalah Dara yang dikenalnya dulu. Dara yang begitu anggun, terawatt, cantik, pntar, dan penuh semangat. Rasa penyesalan semain deras menghujani Putra. Penyesalan karena kepeceundangannya dahulu yang memilih untuk menuruti perintah Ibunya yang mengirimnya belajar ke negeri orang daripada mememnuhi keinginannya untuk menemani Dara yang terbuang. Rasa penyesalan itulah yang membuatnya hadir di hadapan Dara kini setelah pencariannya yang cukup lama untuk menelusuri jejak keberadaan Dara.
Putra memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar dara. Dara diam. Putra meminta ijin untuk masuk ke kamar Dara, Dara diam. Putra meminta maaf. Dara diam. Bingung dengan apa yang harus dilakukan, Putra mencoba masuk ke kamar Dra, mencoba mencari celah maaf darinya. Dara bereaks. Ia menutup pintu kamarnya. Menutup semua celah maaf yang tak lagi ia sisakan untuk Putra. Putra mencegahnya dengan sigap. Putra menahan pintu yang hendak ditutup Dara, hingga ia berhasil masuk kamar dengan memaksa.
Putra menutup pintu kamar yang nyaris rusak. Namun Dara membatu dalam kebisuannya. Lekat-lekat ia tatap Putra. Kenangan-kenangan masa lalu yang terasa pahit terus hadir membawa dendam tak terhenti, membuatnya sesak dan mual. Terus-menerus hadir tanpa mampu ia kendalikan. Membuatnya semakin sesak. Semakin mual.
Dara merobek kebisuannya. Sekuat tenaga tiba-tiba ia berteriak dan lalu membuka serta menarik paksa gorden kamarnya hingga terlepas. Sinar mentari riang memasuki kama Dra. Menyaksikan Dara yang melilitkan kain goreden lusuh itu pada Putra dengan sangat kuat. Kekuatan yang entah dari mana datangnya hingga Lanang tak mampu berontak sedikitpun. Kekuatan yang mungkin tak ia sadari terkumpul dari puing-puing penderitaan dan luka yang menimpanya sejak dua tahun yang lalu. Kekuatan yang tiba-tiba muncul tanpa Dara sendiri tak mampu membanyangkannya. Dara semakin memperkuat lilitan kain gorden di leher Lanang hingga benar-benar ia tak sanggup lagi menghela nafas. Dara melepas genggamannya pada gorden itu. Dara tersenyum. Sebuah simpul yang tidak pernah lagi tersangkut di bibirnya sejak dua tahun lalu. Dara lalu pergi. Pergi ke mana saja. Meninggalkan kamarnya dan Lanang yang kaku terlilit gorden. Sinar mentari dan uapan embunhanya mampu membisu melihatnya. ***

Amelia Fitriani

« Sastra


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.