Muara Angke, Muara Sampah

Muara Angke merupakan kawasan yang terkenal dengan pelelangan ikan, pasar ikan, dan tempat makan ikan bakar di sudut Jakarta. Disamping menyediakan beraneka ragam hasil laut, Muara angke juga menyediakan hasil olahan laut, seperti otak-otak yang sangat mudah ditemui di Muara Angke karena jumlahnya yang banyak. Tidak heran bila untuk memasuki kawan ini untuk mencari ikan-ikan segar ataupun olahannya yang juga segar, dibutuhkan perjuangan. Karena harus melintasi jalanan pasar yang sempit dan berkubang. Pengunjung juga dihaapkan dengan bau amis dari banyaknya ikan-ikan dan binatang laut lainnya yang dijajakan di kawasan itu sangat mengganggu para pengunjung yang tidak terbiasa dengan bau semacam itu.
Namun disisi lain, karena ramainya penjualan ikan dan binatang laut, serta restoran ikan bakar di Muara Angke tersebut menyebabkan timbulnya masalah yang sebenarnya butuh juga untuk diperhatikan, yakni sampah. Arus jual-beli yang pesat, apalagi di musim-musim liburan seperti akhir tahun, menyebabkan banyaknya sampah yang berasal dari ampas, kotoran, dan sisa penjualan ikan, ataupun restoran pembakaran ikan.
Setiap harinya para pedagang dipunguti uang sejumlah Rp. 1.000 untuk kebersihan di sekitar Muara Angke. Namun pada hari libur, dimana pengunjung datang berkali lipat dari biasanya, para pedagang dipunguti uang sejumlah Rp. 2.000. dengan dana itulah, petugas kebersihan di terjunkan. Karena luasnya kawasan Muara Angke, maka daerah jangkauan pembersihan sampahnya pun dibatasi, agar lebih terjangkau. Sehingga Muara Angke dibagi dalam beberapa daerah kecil yang menjadi daerah cakupan pengandalian kebersihan.
Petugas kebersihan ditiap daerah pengendalian sampah itu pun berbeda-beda. Setiap petugas kebersihan diganti tiap empat jam sekali. Setiap empat jam sekali ada tiga hingga empat orang petugas kebersihan yang bekerja. Seperti Karta yang sudah bekerja menjasi petugas kebersihan di Muara Angke sejak tahun 1991.
Sampah dari Muara Angke tersebut pada akhirnya akan dibuang ke Waduk yang berada di belakang Muara Angke untuk selanjutnya dibuang ke Bantar Gebang.***
Amelia Fitriani