The Euro Between National and European Identity
By : Thomas Risse
August, 2003
Journal of European Public Policy 10:4 August 2003: 487–505

Thomas Risse dikenal sebagai seorang scholar Hubungan Internasional dengan pemikiran yang konstruktivis. Berbeda dengan konstuktivis versi Amerika, ide-ide konstruktivisme yang dianutnya adalah pemikiran yang bersumber dari teori-teori sosial dan filsafat Jerman. Thomas Risse saat ini memimpin kajian penelitian tentang ’hubungan trans-nasional, kebijakan luar negeri dan keamanan’ di Otto-Suhr Institute bidang ilmu politik di Freie Universitat Berlin. Selain itu, Riesse juga merupakan peneliti di Jerman bidang internasional. Dia juga memimpin program PhD di Hertie School of Governance di Berlin.
Dalam artikelnya berjudul The Euro Between National and European Identity yang dimuat dalam Journal of European Public Policy pada Agustus 2003, Thomas Risse mengekspolasi mengenai bagaimana penggunaan mata uang Euro di sebagian besar Negara-negara anggora European Union (EU) mampu membentuk suatu identitas bersama (kolektif), yakni identitas Eropa. Artikel ini dipublikasikan oleh Thomas Riesse pada Agustus 2003. Konteks munculnya artikel adalah karena tahun sebelumnya (Januari, 2002), Euro secara fisik baru digunakan dan diberlakukan di mayoritas negara-negara di Eropa. Sehingga, munculnya artikel ini merupakan elaborasi dan eksplanasi dari Euro yang hadir sebagai salah satu pembentuk identitas bersama. Artiekel Risse dalam studi Hubungan Internasional mampu berfungsi sebagai salah satu acuan penting berkaitan dengan upaya integrasi Eropa dan pembentukan identitas Eropa melalui salah satu indikatornya, yaitu mata uang, dalam han ini adalah Euro. Argumen utama Riesse dalam artikel tersebut adalah bahwa Uang merupakan salah satu penanda identitas yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat dan terkait dalam upaya pembangunan nasional yang berhubungan dengan identitas nasional bersama.
Risse membagi pembahasan dalam artikelnya ke dalam empat bagian, bagian pertama adalah tentang hubungan antara identitas Eropa dan identitas nasional. Menurutnya, Uang merupakan salah satu penanda identitas individu/masyarakat yang penting. Bahkan, gambar yang tertera dalam setiap mata uang selalu dikaitkan dengan sibol-simbol sejarah maupun simbol nasional. Begitupun gambar yang tertera dalam Euro. Penggunaan gambar jembatan, tiang-tiang, dan jendela pada mata uang Euro menggambarkan keterbukaan dan inklusifitas dari entitas supranasional, yakni EU.
Masyarakat Eropa secara umum akan skeptis terhadap pembentukan identitas kolektif Eropa apabila hal tersebut tidak menyangkut kehidupan mereka sehari-hari. Konsep ’entitativity’ yang merupakan konsep sosial-psikologis sesuai dengan konteks tersebut. Sehingga agar perkembangan identitas kolektif Eropa mampu menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat Eropa, salah satu caranya adalah dengan pemberlakuan mata uang yang sama dalam Eropa.
Di bagian kedua, Risse menjelaskan mengenai sikap masyarakat Eropa mengenai bagaimana Euro mampu mempengaruhi persepsi terhadap identitas eropa dan identitas nasional Risse menjelaskan bahwa pembentukan identitas kolektif Eropa tidak serta-merta menghapus identitas yang dimiliki individu sebelumnya, yakni identitas nasionalnya. Hubungan antara identitas Eropa dan identitas nasional negara adalah keberadaan porsi bagi individu. Individu pada hakikatnya memiliki identitas yang banyak, dua diantaranya yang utama adalah identitas nasional dan identitas Eropa. Hal itulah yang ingin dituju dengan pembentukan identitas Eropa.
Pembahasan mengenai identitas mampu memberikan pengaruh bagi sikap individu Eropa terhadap Euro.Hal itlah yang dibahas Risse pada bagian ketiga dari artikel ini. Menurut Risse, Nasionalisme dalam satu sisi memiliki arti sebuah identitas ekslusif dibanding Negara lainnya. Rasa ’memiliki’ terhadap negara maupun lembaga supranasional seperti EU memunculkan sikap patriotisme yang sama, yakni sikap kesetaraan antara satu dan lainnya. Sehingga tidak akan muncul sikap untuk mendiskriminasikan salah satu individu./kelompok. Muller-Peters menginvestigasi tentang bagaimana kebanggan nasional mempengaruhi sikap terhadap Euro. Di banyak negara-negara Eropa, ikatan emosional yang kuat dengan mata uang nasional akan membentuk sikap individu yang negatif terhadap Euro. Namun kebanggaan individu atas sebuah sistem ekonomi dan politik akan membentuk sikap individu yang positif terhadap Euro.
Di bagian terakhir artikel tersebut, Risse membahas mengenai Italia, Jerman, dan Inggris dan kaitannya dengan Euro. Konstruksi identitas nasional mampu menjelaskan antusiasme Italia, sikap Jerma yang kontradiktif, dan penolakan Inggris terhadap pemberlakuan Euro. Italia memandang Euro memang sebagai simbol dari identitas Eropa. Italia, dibanding negara lainnya, sangat setuju dan mendukung dengan Euro. Berbeda dengan italia, Jerman memang menerima dan menyetujui Euro, namun dalam masyarakat tidak begitu terlihat antusiame dari masyarakat. Euro dianggap sebagai mata uang yang lemah daripada mata uang Jerman sebelumnya, karena menurut pengamatan Jerman, Euro cenderung menimbulkan inflasi. Selain itu juga tidak ada konsensus di Jerman mengenai Euro. Sedangkan Inggris lebih memilih untuk memperbaharui Negara kesatuannya daripada menerima Euro sebagai mata uang bersama. Bahkan Perdana Menteri Tony Blair saat itu menegaskan pada warganegaranya bahwa bila ada yang menyetujui Euro untuk Inggris akan menghadapi masalah.
Dalam kongklusinya, Risse menyimpulkan bahwa “… Euro makes Europe real and reifies it as a political order, since it provides a visible link from Brussels to the daily lives of the citizens. On the other hand, existing collective identities pertaining to the nation-state explain to a large degree how comfortable people feel using and dealing with the Euro… The variation in attitudes between the Italian enthusiasm for the Euro, the German ambivalence about it, and the widespread British opposition can be largely accounted for by the differences in collective understandings and identification patterns with the nation-state and Europe. In sum, the causal arrows from the Euro to collective identities run both ways.” (p. 501)
Dalam artikel tersebut, banyak hal yang perlu dikritisi, pertama, Risse melihat Euro, identitas Eropa, dan pengaruhnya terhadap sikap masyarakat pada saat tahun-tahun awal pemeberlakuan Euro, sehingga apa yang ia tuliskan tidak sepenuhnya relevan dengan konteks keadaan saat ini, dimana perkembangan sudah banyak terjadi di Eropa terkait dengan hal itu. Kondisi perekonomian Eropa yang fluktuatif termasuk karena masalah krisis Yunani sudah banyak mempengaruhi perkembangan Euro sebagai mata uang bersama Eropa. Pembentukan identitas Eropa pun mengalami banyak kemajuan terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya terutama perkembangan teknologi. Kekurangan lain dari artikel Riseel tersebut adalah kurang dielaborasi lebih jaunya mengenai konsep ’envitativity’ yang menjadi kunci pembahasan identitas Eropa dan Euro.
Terkait dengan argumen utama Rissel dalam artikel tersebut Rissel secara spesifik menegaskan bahwa uang merupakan penanda identitas dan pembangunan nasional. Dalam argumen utamanya tersebut, Rissel lebih menargetkan tujuan dari lebaga supranasional kepada individu-individu agar menjadi satu identitas yang sama. Namun Rissel tidak mempertimbangkan aktor lain yang juga sama pentingnya, yakni negara. Padahal Negara sebagai pemegang identitas bagi individu-individu di dalamnya juga memiliki keterkaitan erat proses pembentukan identitas Eropa. Menurut saya, harusnya fokus dan argumen utama dari artikel ini membagi pada dua target utama, idividu dan negara.
Namun disamping itu, menurut saya artikel ini patut diapresiasi sebagai salah satu referensi bacaan mengenai Euro pada tahun-tahun awal penerapannya. Selain itu, yang saya nilai baik dalam artikel ini adalah penggunaan bahasa yang general/umum. Sehingga penyampainnya mampu dipahami oleh orang awam. Ditambah lagi dalam setiap argumennya, Rissel memperkuatnya dengan data-data yang jelas dan akurat sumbernya. Hal itu mampu mempertegas argumen-argumen yang disampaikannya. Pemikiran-pemikran Rissel yang konstruktivis membuatnya mengelaborasi setiap argumen secara mendetil mengenai terbentuknya identitas serta kaitannya dengan Euro dan sikap masyarakat.
Amelia Fitriani